Rumah Kampung Ucup 'Taring Padi'
Rumah merupakan cerminan karakter penghuninya. Istilah ini mungkin sesuai dengan hunian yang berada di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, milik Muhammad Yusuf. Dari kejauhan rumah ini nampak sama dengan rumah-rumah di lingkungan sekitarnya yang asri dan kental dengan suasana pedesaan, yang membedakannya adalah rumah ini nampak lebih tinggi karena berada di kontur perbukitan dan kelihatan nyentrik. Senyum kita akan mengembang ketika melihat papan kayu bertuliskan “Pos Ronda RT 02” tergantung di bagian teras rumahnya lengkap dengan kentongan yang terbuat dari akar bambu. Bunyi-bunyian bergemerincing mengalun ketika hembusan angin menerpa sekumpulan bel angin yang menghiasi beranda rumahnya.
Hunian yang didominasi dengan batu bata ekspos ini dibangun Ucup, panggilan akrab Yusuf, pada pertengahan tahun 2007 paska gempa Jogja. “Tahun 2006, kontrakan aku rubuh karena gempa. Setelahnya aku mendapatkan tanah di daerah sini. Sembari tinggal di tenda plastik selama 7 bulan, aku nyicil membangun rumah ini,” beber Ucup bercerita tentang awal mula rumahnya. Rumah yang dibangun Ucup berkonsep rumah tumbuh dan dinamainya Rumah Kampung dengan menggunakan material yang berada di sekitar lingkungannya sehingga bila dicampur atau dipadupadankan tetap menyambung dan tidak perlu pemanis. Misalnya dinding dengan batu bata ekspos yang tidak diplester cukup dilapisi dengan lem kayu. “ Konsep kampungan ini menyesuaikan dengan lingkungan sekitar sehingga tidak ada jarak dengan tetangga. Dengan konsep ini, tetangga tidak segan untuk main bahkan banyak anak kecil yang bermain di sekitaran rumah,” terang Ucup. Dua buah bangku panjang berukir saling berhadap-hadapan menjadi tempat duduk sekedar bersantai atau menerima tamu. Beberapa lukisan karyanya terpajang di dinding teras. Lantai mozaik dari pecahan keramik membuat pola bintang dengan bentuk hati (love) di tengahnya yang diberi nama 'Semangat Baik' merupakan konsep berkesenian Ucup.
Melangkah masuk kita akan melewati sebuah pintu kaca yang bersanding dengan jendela di kanan kirinya. Jendela ini mempunyai tinggi yang hampir sama dengan pintu serta daun jendelanya berporos di tengah kusen atau bingkai. Hal ini bertujuan supaya angin dapat masuk ke rumah tanpa ada hambatan. Hampir semua pintu, jendela dan kusen di rumah ini terbuat dari kayu kelapa (glugu). Kayu kelapa ini dipilih sendiri oleh Ucup di tukang kayu. Tak jarang ia juga berebut dengan penjual kayu tuk mendapatkan kayu kelapa yang terbaik. “ Kayu kelapa ini aku hunting sendiri ke tukang kayu.Milih sendiri. Kadang berebutan dengan penjual-penjual kayu kulakan,” ujat Ucup sembari terkekeh. Pemilihan kayu kelapa ini dikarenakan harganya yang murah, serat dan teksturnya menarik serta tahan lama. “Tahan lama disini berarti awet dan kayu kelapa itu mempunyai sifat konsisten. Tidak peduli musim panas atau dingin, ia tidak berubah. Kayu-kayu yang lain biasanya berubah dan berpengaruh ke engsel yang setiap musim harus berubah,” tambah Ucup.
Di bagian atas pintu terdapat 3 lukisan yang dipisahkan dengan sekat pembatas antarkusen. Lukisan di sisi kanan berjudul Kemakmuran, dengan berbagai macam tanaman. Lukisan di tengah berjudul Kelahiran, sedangkan di sisi kiri berjudul Kekayaan, dengan berbagai jenis fauna. Ketiga lukisan itu dibuat dengan teknis grafis. “ Bayangan aku pertama dulu mau tak pasang besi atau teralis kemudian aku berpikir, kenapa enggak yang aku bisa saja, “ tutur pria kelahiran Lumajang ini. Hiasan pernak-pernik serta foto keluarga Ucup menghiasi sebuah meja yang berlatar belakang dinding yang bagian tengahnya berlubang bulat yang tembus ke ruang tamu di sebelahnya. Dinding beranyaman bambu sebagai pembatas di sisi timur ruangan. Melangkah ke ruangan sebelah yang difungsikan sebagai ruang tamu dengan marmer putih berbintik sebagai lantainya. Bangku panjang dengan hiasan roda pedati terletak di dekat pintu masuk. Seperangkat kursi, bangku dan meja terletak di depan dinding berlubang di sisi yang satunya dengan hiasan lukisan pemandangan. Batu-batu kali disusun sedemikian rupa membentuk sebuah pohon yang berujung pada bintang sebagai puncaknya. Hiasan batu kali ini menempel pada dinding yang bagian atasnya terdapat teralis dari susunan batang bambu yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi udara dan juga sebagai penerang ruangan. Penggunaan batu kali juga diterapkan pada kamar mandi di lantai satu ini. “Batu itu kesannya sederhana, natural dan tidak kaku. Berbeda dengan penggunaan ubin yang kotak-kotak yang terkesan kaku, “ papar Ucup.
Tangga beton dengan hiasan pecahan keramik menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Sepanjang perjalanan meniti tangga ke lantai dua kita akan menikmati pajangan yang unik berupa topeng-topeng pahlawan anak-anak, Powers Rangers, dan juga topeng-topeng tradisonal terpajang di dinding menuju ke lantai dua. Sebuah ruang sholat menempati bagian bordes tangga. Bordes adalah pelat datar di antara anak - anak tangga sebagai tempat beristirahat sejenak. Bordes di pasang pada bagian sudut tempat peralihan arah tangga yang berbelok. “Tangga ini dulu bayangannya lurus dan langsung menuju lantai dua tetapi ternyata tinggi. Kemudian aku buat belok dan menyisakan ruang kecil. Ruangan yang cocok untuk ruang kecil itu adalah musholla,” terang alumnus ISI ini. Di lantai dua dimanfaatkan sebagai ruang keluarga dan tempat bersantai menikmati suguhan televisi. Lantai lantai dua ini menggunakan kayu sebagai lantainya dan beratap asbes. Untuk sirkulasi udara dan pencahayaan, dinding sisi timur dibuat berongga-rongga. Penggunaan lantai kayu dan atap asbes dikarenakan mempunyai sifat ringan sehingga bila jatuh tidak terlalu melukai tambah Ucup yang trauma dengan peristiwa gempa Jogja. Bagian ujung belakang dimanfaatkan sebagai dapur dan kamar mandi. Bagian belakang lantai dua ini walaupun bertingkat tapi menyatu dengan tanah dibelakangnya dikarenakan kontur tanahnya yang perbukitan. Unik bukan?
Pada konsep awalnya, Ucup cuma menargetkan rumahnya untuk memiliki dua lantai saja. Dikarenakan atap lantai dua yang terlalu mepet dengan kontur tanah di bagian belakang maka Ucup memutuskan untuk menambahi atapnya supaya lebih tinggi dengan cara menambah satu lantai lagi sehingga total hunian di rumah Ucup terdiri dari tiga lantai. Lantai tiga tambahan ini difungsikan sebagai studio dan ruang karya Ucup. Tangga kayu digunakan sebagai penghubung antara lantai dua dengan lantai tiga. Rumah yang mempunyai luas 460 m² ini belum termasuk sanggar, perpus dan juga tempat penjualan aksesoris Taring Padi. Taring Padi merupakan suatu komunitas yang bergerak di bidang seni dan budaya. Dalam pembuatan rumah impiannya, Ucup terjun langsung dalam pembangunannya. Mulai dari pecah batu hingga pasang batu bata. Pembuatan rumah ini menjadi media belajar yang baru baginya. “Aku sampai belajar bagaimana membuat rumah yang baik, belajar tentang struktur bangunan bahkan hingga ke fengshuinya. Aku bikin gambar secara global, secara visual. Bukan gambar arsitek. Kemudian mulai detail dan mengalami perubahan dalam prosesnya, seperti tangga dan penambahan lantai tiga,” beber Ucup. Ia juga menambahkan “ Aku pengennya bikin studio yang lebih besar dan tempat menginap untuk para tamu di bagian belakang rumah,” terang Ucup mengakhiri obrolan di siang itu. Ganang-Red

















































































