Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Sosok

Omah Ala Villa Lereng Sempu Berlanggam Klasik Jawa

Paksi Gagah Inawan
Omah Ala Villa Lereng Sempu
Ruang tamu dalam dengan dominasi unsur kayu
Kitchen set area dengan konsep ala coffee bar
Kamar tidur dengan view alami
[block:views=similarterms-block_1]

Bagi sebagian besar orang, memiliki hunian yang besar, megah, modern, dan nyaman adalah hal yang sangat diimpikan. Namun, bukan berarti desain rumah klasik tidak memiliki tempat di hati mendambanya. Bahkan, bagi pecinta rumah klasik memiliki hunian bergaya arsitektur klasik tentu sangat dinanti dan didambakan. Rumah klasik meskipun terlihat kuno, namun tetap dapat disiasati dan dimodifikasi sehingga menjadi lebih modern dan berkelas. Desain rumah tropis klasik memastikan bahwa rumah menjadi nyaman dihuni di daerah tropis seperti Indonesia. Sirkulasi yang nyaman dan jendela yang luas adalah faktor penting untuk rumah dengan desain ini.

Hadirnya Unsur Alam Nan Ciamik Ruang Ekspresi Daniel Wicaksono

Daniel Wicaksono beserta istri & putra putrinya
Ruang tamu dengan dekorasi simpel nan cozy
Area dapur & ruang makan bergaya minimalis modern
Ruang hobi lantai atas dengan pernak-pernik berbau sepeda
Kamar tidur utama bernuansa minimaslis nan nyaman
[block:views=similarterms-block_1]

Rumah berkualitas adalah sebuah hunian yang mampu menampung keinginan dan mengekspresikan keinginan pemilik dalam setiap tubuh rumah tersebut. Rumah dianggapnya tak sekedar sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas, lebih dari itu, rumah yang berkualitas akan memiliki nyawa, sehingga mereka yang tinggal di dalamnya akan betah berlama-lama untuk berinteraksi di dalamnya. Perpaduan antara gaya arsitektur minimalis dengan konsep rumah tropis dapat menjadi pilihan yang cocok diaplikasikan pada hunian di kawasan beriklim tropis seperti Indonesia.

Naturalisasi Hunian Konsep Up Slope PAGUPON PRIMA

Primatia Romana-Thomas David Devereux beserta putrinya
Naturalisasi Hunian Konsep Up Slope PAGUPON PRIMA
Ruang aktivitas area lantai bawah
Area dapur & ruang makan dengan furnitur kayu bernuansa klasik
Gazebo sebagai tempat bersantai di area rooftop dan Area playground anak berlata
[block:views=similarterms-block_1]

Rumah merupakan tempat tujuan terakhir kita setelah seharian beraktifitas di luar untuk bekerja, sekolah ataupun melakukan beragam kegiatan lainnya. Di rumah segala rasa lelah dan penat akan sedikit terangkat ketika berkumpul, bercengkrama, dan bersenda gurau atau sekedar menceritakan peristiwa yang terjadi hari ini dengan anggota keluarga lainnya. Untuk itu arsitektur dan suasana rumah harus dibuat senyaman mungkin untuk mendukung hal tersebut. Suasana pedesaan yang nyaman, damai, serta jauh dari hiruk pikuk keramaian kota begitu terasa ketika berada di lingkungan rumah milik pasangan suami-istri, Primatia Romana Wulandari dan Thomas David Devereux yang beralamat di dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Meleburnya Rumah Lawas Pada Konsep Kiwari Hunian Klasik Gunawan & Tur Nastiti

Gunawan & Tur Nastiti beserta kedua putrinya
Fasad bangunan kolonial dengan sentuhan nuansa natural
Teras depan bernuansa hangat
Ruang makan bergaya simpel & terbuka
Meja ‘angkringan’ sebagai tempat bersantai favorit
[block:views=similarterms-block_1]

Bukan hanya bentuk fisiknya yang unik, bangunan rumah bernuansa klasik pun penuh dengan makna filosofis. Pada arsitektur bangunan rumah bergaya klasik tersebut, seni arsitektur bukan sekedar pemahaman seni konstruksi rumah, namun juga merupakan refleksi nilai dan norma masyarakat pendukungnya. Kecintaan manusia pada cita rasa keindahan, bahkan sikap religiusnya terefleksikan dalam arsitektur rumah dengan gaya ini. Nampaknya hal tersebut yang ingin ditampilkan oleh pasangan suami istri, Gunawan dan Nastiti pada huniannya yang berada di daerah Bugisan, Kepatihan Taman Martani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Selain ingin mewujudkan rumah tinggal yang nyaman bagi keluarganya, pria yang mempunyai basic sebagai antropolog ini juga ingin menggali sisi historis dari bangunan peninggalan turun-temurun keluarga dari sang istri yang telah ada sejak tahun 1952 tersebut. “Sebenarnya rumah ini adalah rumah lawas peninggalan dari keluarga istri sejak dulu karena memang asal keluarga besar dari sini. Singkat cerita daerah ini diberi nama daerah Bugisan karena cikal bakal jaman dahulu di daerah ini adalah prajurit keturunan Bugis Makassar. Jadi istri saya merupakan generasi ke-7 dari keturunan-keturunan Bugis yang tinggal di tempat ini sebelumnya,” cerita Gunawan.

Konsep Recycle Nan Simpel Kediaman Revianto B. Santosa

Revianto B. Santosa bersama istri
Ruang tamu dengan dekorasi simpel
Unsur kayu pada area ruang tengah hadirkan kesan hangat
Ruang makan dengan table set minimalis dan Area dapur dengan kitchen set kayu
Kamar Anak
[block:views=similarterms-block_1]

Rumah atau omah bagi masyarakat Jawa memiliki arti yang cukup mendalam. Dalam literatur-literatur Jawa banyak disebutkan, bahwa omah merupakan lingkup kehidupan yang tertuang dalam sebuah bangunan. Masyarakat Jawa mendesain rumah sebagai representasi dari makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos adalah lingkungan sekitarnya, dan mikrokosmos adalah arsitektur bangunan tempat tinggalnya. Kiranya hal tersebut yang diusung Dr. Ir. Revianto B. Santosa, M.Arch, IAI dalam membangun hunian tempat tinggal bagi keluarganya. Rumah tak hanya sebagai tempat tinggal atau tempat berteduh saja, namun juga harus dapat memberikan berkah bagi penghuni dan lingkungan di sekitarnya.

Rumah Loji Kolonial Nostalgia & Impian Aris Suharyanta

Aris Suharyanto bersama istri & kedua putranya
Rumah Loji Kolonial Nostalgia & Impian Aris Suharyanta
Ruang tamu dengan furnitur & dekorasi barang vintage
Ruang keluarga dengan dominasi furnitur kayu lawasan ala rumah Jawa
Kamar tidur dengan ranjang kuno namun nyaman
[block:views=similarterms-block_1]

Rumah Loji sebenarnya sebutan orang Jawa untuk rumah tinggal yang memiliki bentuk arsitektur kolonial. Kata loji sendiri mempunyai arti rumah yang besar, bagus, dan berdinding tembok. Diambil dari bahasa Belanda, loge, namun setelah diucapkan oleh orang Jawa menjadi loji. Pada awalnya rumah rumah Loji hanya dibangun oleh kalangan Belanda, sedangkan kalangan Jawa masih tinggal dan membangun tempat tinggalnya dengan bentuk-bentuk rumah tradisional, terutama berbentuk rumah Joglo. Oleh karena itu beberapa bekas wilayah pemukiman Belanda juga sering disebut sebagai kawasan Loji oleh orang-orang Jawa seperti Loji Kecil, Loji Kebon, Kidul Loji (Yogyakarta), atau Loji Wurung (Surakarta).

Sulaman Eksotik Kayu & Batu Omah Jowo Heru Suprihantono

Heru Suprihantono dan Hanai Kobayashi bersama sang putra
Sulaman Eksotik Kayu & Batu Omah Jowo Heru Suprihantono
Teras depan rumah bernuansa alami dan table set klasik area ruang tamu
Area outdoor teras samping dengan kolam ikan
Kamar tidur utama dengan ranjang kayu lawasan
[block:views=similarterms-block_1]

Membangun rumah sesuai dengan karakter sang penghuni rumah merupakan dambaan setiap orang. Rumah dapat mencerminkan karakter penghuni. Mulai dari kebiasaan, aktifitas, hobi sampai dengan pola pikir pemilik rumah dapat dicerminkan dalam lingkungan rumah itu sendiri. Perlu kecermatan dalam menata ekterior maupun interiornya demi mendapatkan hasil yang maksimal. Bagaimana pola hubungan antar ruang, pernak-pernik, dan furnitur sebagai penghias ruangan dapat terkoneksi menjadi satu kesatuan karakter yang kuat. Kesan bangunan dengan karakter yang kuat tersebutlah yang coba dibangun oleh Heru Suprihantono ke dalam huniannya. Pria yang memiliki usaha dibidang produksi tegel motif ini memberikan sentuhan unik, antik, sekaligus kreatif dalam pembangunan rumahnya yang berada di Dusun Bangen, Bibis, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Coretan Filosofi Arsitektur Omah Ndeso Eko Prawoto

Eko Prawoto bersama istri
CORETAN FILOSOFI ARSITEKTUR Omah Ndeso Eko Prawoto
Area ruang tamu dengan dekorasi klasik dan Teras rumah bergaya tempo dulu
Bagian dalam lumbung sebagai museum teknologi pertanian
Kamar tidur utama dengan ranjang kuno
[block:views=similarterms-block_1]

Rumah atau omah dalam masyarakat Jawa memiliki arti yang mendalam. Dalam literatur-literatur Jawa banyak disebutkan, omah merupakan jagad kehidupannya yang tertuang dalam sebuah bangunan. Masyarakat Jawa mendesain omah, sebagai representasi dari makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos adalah lingkungan alam sekitarnya, dan mikrokosmos adalah arsitektur bangunan dari tempat tinggal itu sendiri. Kiranya hal tersebutlah yang diusung oleh Eko Prawoto dalam membangun hunian tempat tinggalnya. Rumah tak hanya sebagai tempat tinggal atau tempat berteduh saja namun harus memberi berkah bagi penghuni dan lingkungan sekitarnya. Kecintaan seseorang terhadap suatu hal, bila diwujudkan akan menghasilkan sesuatu yang amat bernilai bahkan syarat makna. Kecintaan Eko terhadap alam dan rumah kampung contohnya. Bermula dari keprihatinan beliau kepada desain-desain rumah yang berada di kawasan pedesaan saat ini, dimana masyarakat lebih memilih konsep bangunan modern yang terkesan 'kekotaan'. Hal tersebut membuat hatinya tergerak untuk melestarikan dan mendirikannya sebagai hunian pribadi.

Inspirasi Homy & Cozy Rumah Tumbuh Alexander Matius

Alexander Matius beserta keluarga
Ruang keluarga dengan furnitur bernuansa simpel nan nyaman
Aplikasi kaca pada area lantai atas tampilkan kesan luas
Area kitchen bergaya ala minibar
Kamar tidur utama bergaya minimalis dengan view taman
[block:views=similarterms-block_1]

Rumah berkualitas adalah sebuah hunian yang mampu menampung keinginan dan mengekspresikan keinginan pemilik dalam setiap tubuh rumah tersebut. Mereka yang peduli akan kenyamanan saat berada di dalam rumah akan begitu teliti membangun setiap detail sudut rumah. Rumah dianggapnya tak sekedar sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas, lebih dari itu, rumah yang berkualitas akan memiliki nyawa, sehingga mereka yang tinggal di dalamnya akan betah berlama-lama untuk berinteraksi di dalamnya. Pada prinsipnya, gaya desain apapun yang dipilih, harus mampu untuk memberikan kenyamanan, fungsi yang optimal dan mengadopsi keadaan alam sekitar. Begitu pula dengan desain arsitektur minimalis yang berada di lingkungan tropis. Untuk itu, perpaduan antara gaya arsitektur minimalis dengan konsep rumah tropis dapat menjadi pilihan yang cocok diaplikasikan pada hunian di kawasan beriklim tropis seperti Indonesia.

Limasan Lawas Pengejawantahan Cinta & Nostalgia Cak Su'ud

Suhud
Limasan Lawas Pengejawantahan Cinta & Nostalgia Cak Su'ud
Area ruang tamu dengan kursi rotan klasik dan Paduan desain bangunan tradisional
Kamar tidur didominasi unsur kayu
Kamar mandi dengan konsep semi outdoor
[block:views=similarterms-block_1]

Kecintaan seseorang terhadap suatu hal, bila diwujudkan akan menghasilkan sesuatu yang amat bernilai bahkan syarat akan makna di dalamnya. Kecintaan Suhud terhadap rumah Jawa contohnya, bermula dari keprihatinan beliau kepada rumah tradisional Jawa yang mulai diperjual belikan dan bahkan dibeli oleh orang asing. Hal tersebut membuat beliau tergerak hatinya untuk menjaga dan mendirikannya sebagai hunian pribadinya. “Saya dulu tinggal di daerah Miliran, Yogyakarta, yang notabene adalah daerah yang cukup padat, namun saya merasa sangat prihatin ketika menyaksikan banyak rumah Jawa diperjual belikan, bahkan diekspor hingga keluar negeri. Kemudian saya memutuskan untuk membangun rumah di sini dengan konsep rumah Jawa kampung. Jadi hal tersebut merupakan salah satu upaya saya menjaganya dengan membeli satu dulu yaitu rumah Limasan lawas,” ujarnya semangat.

PARTNER
Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain